Rabu, 06 November 2013

PENGENALAN DIRI- ANDRIANTO REZA


1.      Pengertian Pengenalan Diri
Pengenalan diri adalah mengerti dan memahami tentang diri sendiri dari segi fisik maupun psikis.
Yang meliputi :
a.       Pengenalan ciri – ciri dasar fisik
b.      Pengenalan kepribadian, watak, dan temperamen
c.       Pengenalan bakat – bakat dan minat
d.      Pengenalan kekuatan dan kelemahan diri sendiri

2.      Siapa Aku?
Pengenalan diri dapat dilihat dari beberapa sudut
a.       Dari Sudut Spiritual
Jika seseorang ditanyai, siapa kamu? Dalam jawaban secara umum tentu ada bermacam – macam jawaban, tetapi kalo dipandang dari sudut spiritual jawabannya semua sama, yaitu : Aku adalah manusia yang diciptakkan oleh Allah SWT. Aku adalah hamba Allah SWT yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Aku adalah hamba Allah SWT yang memiliki kewajiban untuk sholat 5 waktu. Aku adalah hamba Allah SWT yang diwajibkan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi semua larangannya.
b.      Dari Sudut Pandang Ahli Psikologi
Dalam buku Abraham Maslow “Aku adalah manusia yang memiliki kebutuhan – kebutuhan bertingkat/hirarki kebutuhan yang harus dipenuhi”
Kebutuhan tersebut dari yang paling dasar sampai yang paling tinggi :
·         Kebutuhan fisiologis (Seperti makan, minum, seksuaitas, dll)
·         Kebutuhan akan rasa aman (Seperti rasa aman terhindar dari bahaya)
·         Kebutuhan untuk dicintai dan mencintai (Diterima menjadi anggota kelompok/teman)
·         Kebutuhan harga diri (Seperti kebutuhan untuk berprestasi)
·         Kebutuhan kognitif (Seperti menambah wawasan dan pengetahuan)
·         Kebutuhan estetis (Seperti menikmati keindahan alam)
·         Kebutuhan aktualisasi diri (Seperti menunjukkan bakat dan kemampuan)

Apabila kebutuhan – kebutuhan ini tidak terpenuhimaka akan mengalami gangguan keseimbangan psikologis misalnya rasa lapar, resah, rasa gelisah, marah, penarikan diri dari pergaulan teman, tidak memiliki arah hidup/tujuan hidup.
Memahami diri tidak cukup sampai siapa aku? Tapi perlu dilanjutkan dengan untuk apa aku lahir dan hidup?


3.      Tahap – tahap Perkembangan Individu
Manusia dilahirkan melalui beberapa tahap, yaitu :
a.       Periode prenatal (konsepsi kurang lebih 9 bulan)
b.      Periode infancy (dari lahir – 2 minggu)
c.       Periode bayi (2 minggu – 2 tahun)
d.      Periode anak (periode anak awal 2 tahun – 6 tahun, periode anak akhir 6 atau 7 – 12 atau 13 tahun)
e.       Periode pubertas (11/12 tahun – 15/16 tahun)
f.       Periode remaja (13/14 tahun – 18/21 tahun)
g.      Periode dewasa awal (18 tahun – 40 tahun)
h.      Periode dewasa akhir (60 tahun – meninggal)

4.      Pemahaman Diri
Untuk memahami diri dapat melalui teknik tes maupun non tes
a.       Teknik Non Tes
Angket, wawancara, otobiografi, anekdot, sosiometri, kartu pribadi, dll.
b.      Teknik Tes
Tes hasil belajar (raport), tes psikologi(tes intelegensi, tes kepribadian, tes bakat, tes minat, tes jabatan)

5.      Manfaat Pemahaman / Pengenalan Diri
Setelah kita memahami diri baik kelemahan dan kelebihan maka ada beberapa manfaat yaitu sebagai berikut :
a.       Mengenal berbagai potensi yang dimiliki
b.      Menngenal kelemahan diri sendiri

Dengan mengenal dan memahami diri sendiri, seseorang dapat mengenal kenyataan dirinya dan sekaligus kemungkinan – kemungkinannya serta diharapkan mengetahui peran apa yang harus dia mainkan untuk mewujudkannya.

Minggu, 06 Oktober 2013

INTERAKSI SEBAGAI UPAYA MENCIPTAKAN PERSAHABATAN HARMONIS- ZUNY



Interaksi yang baik sebagai upaya menciptakan persahabatan yang harmonis
Interaksi merupakan hubungan antara satu orang dengan orang lain, atau dapat dikatakan pula bahwa interaksi itu adalah sesuatu yang sangat penting dan harus dilakukan oleh setiap individu, apalagi kita hidup sebagai makhluk social maka jika tidak berinteraksi berarti dapat dikatakan bahwa individu tersebut belum bisa dikatakan sebagai makhluk social. Seringkali menjumpai individu susah dalam melakukan interaksi dengan individu lain atau lebih dikhususkan interaksi dengan teman nya sendiri atau teman sebaya. Individu yang  jarang melakukan interaksi dengan temannya terlihat bahwa individu tersebut cenderung memiliki sifat yang individual dan kurang bisa membuka diri terhadap teman-teman nya, dapat dikatakan seperti itu karena hal ini terjadi pada teman-teman yang dulu masih duduk di bangku SD, SMP, SMA, Pesantren dan PT saat ini. Dengan kondisi dan sikap yang seperti itu apakah individu akan menemukan seorang teman ? ataukah dapat menemukan seorang teman kemudian berlanjut menjadi sahabat ? dan apakah ketika sudah memiliki sahabat cukup sampai pada itu saja ? apakah tidak ada hal lain yang dapat mempererat persahabatan tersebut sehingga menjadi persahabatan yang harmonis diantara mereka ? semua pertanyaan yang ada dapat dijawab dengan menggunakan kata interaksi yang baik, maka individu akan dapat menemukan seorang teman, bisa juga berlanjut sebagai sahabat dan persahabatan itu akan menjadi persahabatan yang harmonis.
Interaksi yang baik merupakan sesuatu hal yang banyak diinginkan serta dapat dilakukan oleh individu, berawal dari interaksi yang baik ini maka individu akan merasa dekat dan nyaman ketika berada di dekatnya. Suatu persahabatan itu terjadi berawal dari kenyamanan antara individu satu dengan individu lain ketika berinteraksi, dari rasa nyaman yang telah dirasakan oleh individu tersebut, maka individu itu akan semakin membuka atau memiliki sikap terbuka dengan individu yang dia merasa nyaman berada didekatnya. Semua itu terjadi karena kemampuan berinteraksinya itu baik. Indicator bahwa individu dapat dikatakan telah mampu atau memiliki interaksi yang baik diantaranya :
1.     Mampu memandang sorot matanya, hal ini akan berpengaruh sekali dalam berinteraksi. Ketika individu melakukan interaksi dan mengabaikan akan perhatian penuh terhadap lawan bicara, maka individu yang diajak berbicara akan merasa bahwa dirinya tidak diperhatikan
2.    Mampu menggunakan kata yang baik, hal ini berpengaruh dalam interaksi. Individu harus tau bagaimana karakter atau sifat dari lawan bicara, ketika lawan bicara ini memiliki sifat yang lembut maka dalam penggunaan kata nya pun diusahakan tidak menggunakan kata yang kasar.
3.    Mampu memahami ekspresi, hal ini dapat berpengaruh dalam berinteraksi. Ketika individu berinteraksi dan mampu memahami ekspresi dari lawan bicara, maka individu akan merasa bahwa lawan bicara nya benar-benar memperhatikan dan mencoba untuk menangkap maksud atau makna yang timbul melalui pemahaman ekspresi tersebut.

Diketahui bahwa persahabatan merupakan suatu pertemanan antara individu satu dengan individu lain yang memiliki kedekatan yang cukup baik, saling percaya, jujur, dan bersikap apa adanya. Kaitanya dengan interaksi yang baik sebagai upaya dalam menciptakan persabatan yang harmonis yaitu ketika individu sudah memiliki sahabat maka jagalah persahabatan itu dengan baik dan tumbuhkan rasa harmonis dalam persahabatan tersebut, dengan berinteraksi yang baik sedapat mungkin individu dapat menggunakan dan menjaga nilai-nilai dalam persahabatan, karena hal tersebut merupakan bagian dari interaksi yang baik untuk menciptakan situasi persahabatan yang harmonis.

BELAJAR EFEKTIF UNTUK KEBERHASILAN BELAJAR- YKKA DEWI



Belajar Efektif untuk Keberhasilan Belajar
      I.            Pengertian Belajar Efektif
Semua keberhasilan yang ingin dicapai memerlukan proses, tak terkecuali belajar. Jika ingin berhasil dalam belajar maka perlu strategi agar belajar tersebut bisa efektif dan tidak membosankan. Pengertian  belajar efektif itu sendiri adalah cara belajar yang dapat meraih tujuan yang ingin dicapai dari belajar itu sendiri, sesuai dengan kompetensi dasar dari materi yang diajarkan.

   II.            Macam-macam Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran (Slamento,2003).
Fleming dan Mills (1992) dalam Slamento (2003) mengajukan kategori gaya belajar (Learning Style) VARK ( Visual, Auditory, Read-write, Kinestetic) tersebut sebagai berikut :
1.        Visual (V)
2.       Auditori Learning (A)
3.       Read-Write (R)
4.       Kinestetic (K)

III.            Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Efektif
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua yaitu:
1.        Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
ü  Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.
1)       Keadaan Tonus Jasmani
Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terha­dap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
2)     Keadaan Fungsi Jasmani
Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Pancaindra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga.
ü  Psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Bebera­pa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, bakat dan percaya diri.
1)   Kecerdasan
Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menenentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi tingkat inteli­gensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat inteligensi individu, semakin sulit indivi­du itu mencapai kesuksesan belajar.
2)  Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendo­rong siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.
3)  Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan. minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi penga­ruh terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar.
4)  Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisi­kan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kernungkina besar ia akan berhasil.

5)  Kepercayaan Diri Siawa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “ perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa.
2.       Faktor Eksternal
Selain faktor internal, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa. Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor faktor eksternal yang memengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
ü  Lingkungan Sosial
1.        Keluarga
Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
2.       Sekolah
Lingkungan sekolah seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah.
3.       Masyarakat
Kondisi lingkungan masya­rakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengang­guran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
ü  Lingkungan Non-Sosial
Faktor yang termasuk lingkungan non-sosial adalah:
4.       Lingkungan Alamiah
Seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupa­kan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
5.       Faktor Instrumental
Yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapang­an olahraga. Contohnya, letak sekolah atau tempat belajar harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
6.       Faktor Materi Pelajaran (yg diajarkan ke siswa)
Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembang­an siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus mengua­sai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.

 IV.            Strategi Belajar yang Efektif
Berikut ini adalah strategi belajar efektif yang dapat diterapkan.
1.     Buatlah rangkuamn materi inti sehingga menjadi sebuah ringkasan
2.     Aktif dan kreatif dalam mengikuti pelajaran
3.     Belajar kelompok. Dengan belajar kelompok ini siswa akan bisa sharing dengan teman-temannya mengenai materi pelajaran yang sulit dipecahkan
4.     Disiplin. Dengan adanya disiplin dalam belajar, siswa dapat mencapai hasil yang maksimal.
5.     Memperkaya referensi pendukung agar dapat memahami materi yang telah diberikan