Minggu, 06 Oktober 2013

INTERAKSI SEBAGAI UPAYA MENCIPTAKAN PERSAHABATAN HARMONIS- ZUNY



Interaksi yang baik sebagai upaya menciptakan persahabatan yang harmonis
Interaksi merupakan hubungan antara satu orang dengan orang lain, atau dapat dikatakan pula bahwa interaksi itu adalah sesuatu yang sangat penting dan harus dilakukan oleh setiap individu, apalagi kita hidup sebagai makhluk social maka jika tidak berinteraksi berarti dapat dikatakan bahwa individu tersebut belum bisa dikatakan sebagai makhluk social. Seringkali menjumpai individu susah dalam melakukan interaksi dengan individu lain atau lebih dikhususkan interaksi dengan teman nya sendiri atau teman sebaya. Individu yang  jarang melakukan interaksi dengan temannya terlihat bahwa individu tersebut cenderung memiliki sifat yang individual dan kurang bisa membuka diri terhadap teman-teman nya, dapat dikatakan seperti itu karena hal ini terjadi pada teman-teman yang dulu masih duduk di bangku SD, SMP, SMA, Pesantren dan PT saat ini. Dengan kondisi dan sikap yang seperti itu apakah individu akan menemukan seorang teman ? ataukah dapat menemukan seorang teman kemudian berlanjut menjadi sahabat ? dan apakah ketika sudah memiliki sahabat cukup sampai pada itu saja ? apakah tidak ada hal lain yang dapat mempererat persahabatan tersebut sehingga menjadi persahabatan yang harmonis diantara mereka ? semua pertanyaan yang ada dapat dijawab dengan menggunakan kata interaksi yang baik, maka individu akan dapat menemukan seorang teman, bisa juga berlanjut sebagai sahabat dan persahabatan itu akan menjadi persahabatan yang harmonis.
Interaksi yang baik merupakan sesuatu hal yang banyak diinginkan serta dapat dilakukan oleh individu, berawal dari interaksi yang baik ini maka individu akan merasa dekat dan nyaman ketika berada di dekatnya. Suatu persahabatan itu terjadi berawal dari kenyamanan antara individu satu dengan individu lain ketika berinteraksi, dari rasa nyaman yang telah dirasakan oleh individu tersebut, maka individu itu akan semakin membuka atau memiliki sikap terbuka dengan individu yang dia merasa nyaman berada didekatnya. Semua itu terjadi karena kemampuan berinteraksinya itu baik. Indicator bahwa individu dapat dikatakan telah mampu atau memiliki interaksi yang baik diantaranya :
1.     Mampu memandang sorot matanya, hal ini akan berpengaruh sekali dalam berinteraksi. Ketika individu melakukan interaksi dan mengabaikan akan perhatian penuh terhadap lawan bicara, maka individu yang diajak berbicara akan merasa bahwa dirinya tidak diperhatikan
2.    Mampu menggunakan kata yang baik, hal ini berpengaruh dalam interaksi. Individu harus tau bagaimana karakter atau sifat dari lawan bicara, ketika lawan bicara ini memiliki sifat yang lembut maka dalam penggunaan kata nya pun diusahakan tidak menggunakan kata yang kasar.
3.    Mampu memahami ekspresi, hal ini dapat berpengaruh dalam berinteraksi. Ketika individu berinteraksi dan mampu memahami ekspresi dari lawan bicara, maka individu akan merasa bahwa lawan bicara nya benar-benar memperhatikan dan mencoba untuk menangkap maksud atau makna yang timbul melalui pemahaman ekspresi tersebut.

Diketahui bahwa persahabatan merupakan suatu pertemanan antara individu satu dengan individu lain yang memiliki kedekatan yang cukup baik, saling percaya, jujur, dan bersikap apa adanya. Kaitanya dengan interaksi yang baik sebagai upaya dalam menciptakan persabatan yang harmonis yaitu ketika individu sudah memiliki sahabat maka jagalah persahabatan itu dengan baik dan tumbuhkan rasa harmonis dalam persahabatan tersebut, dengan berinteraksi yang baik sedapat mungkin individu dapat menggunakan dan menjaga nilai-nilai dalam persahabatan, karena hal tersebut merupakan bagian dari interaksi yang baik untuk menciptakan situasi persahabatan yang harmonis.

BELAJAR EFEKTIF UNTUK KEBERHASILAN BELAJAR- YKKA DEWI



Belajar Efektif untuk Keberhasilan Belajar
      I.            Pengertian Belajar Efektif
Semua keberhasilan yang ingin dicapai memerlukan proses, tak terkecuali belajar. Jika ingin berhasil dalam belajar maka perlu strategi agar belajar tersebut bisa efektif dan tidak membosankan. Pengertian  belajar efektif itu sendiri adalah cara belajar yang dapat meraih tujuan yang ingin dicapai dari belajar itu sendiri, sesuai dengan kompetensi dasar dari materi yang diajarkan.

   II.            Macam-macam Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran (Slamento,2003).
Fleming dan Mills (1992) dalam Slamento (2003) mengajukan kategori gaya belajar (Learning Style) VARK ( Visual, Auditory, Read-write, Kinestetic) tersebut sebagai berikut :
1.        Visual (V)
2.       Auditori Learning (A)
3.       Read-Write (R)
4.       Kinestetic (K)

III.            Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Efektif
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua yaitu:
1.        Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
ü  Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.
1)       Keadaan Tonus Jasmani
Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terha­dap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
2)     Keadaan Fungsi Jasmani
Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Pancaindra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga.
ü  Psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Bebera­pa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, bakat dan percaya diri.
1)   Kecerdasan
Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menenentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi tingkat inteli­gensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat inteligensi individu, semakin sulit indivi­du itu mencapai kesuksesan belajar.
2)  Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendo­rong siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.
3)  Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan. minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi penga­ruh terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar.
4)  Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisi­kan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kernungkina besar ia akan berhasil.

5)  Kepercayaan Diri Siawa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “ perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa.
2.       Faktor Eksternal
Selain faktor internal, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa. Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor faktor eksternal yang memengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
ü  Lingkungan Sosial
1.        Keluarga
Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
2.       Sekolah
Lingkungan sekolah seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah.
3.       Masyarakat
Kondisi lingkungan masya­rakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengang­guran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
ü  Lingkungan Non-Sosial
Faktor yang termasuk lingkungan non-sosial adalah:
4.       Lingkungan Alamiah
Seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupa­kan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
5.       Faktor Instrumental
Yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapang­an olahraga. Contohnya, letak sekolah atau tempat belajar harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
6.       Faktor Materi Pelajaran (yg diajarkan ke siswa)
Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembang­an siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus mengua­sai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.

 IV.            Strategi Belajar yang Efektif
Berikut ini adalah strategi belajar efektif yang dapat diterapkan.
1.     Buatlah rangkuamn materi inti sehingga menjadi sebuah ringkasan
2.     Aktif dan kreatif dalam mengikuti pelajaran
3.     Belajar kelompok. Dengan belajar kelompok ini siswa akan bisa sharing dengan teman-temannya mengenai materi pelajaran yang sulit dipecahkan
4.     Disiplin. Dengan adanya disiplin dalam belajar, siswa dapat mencapai hasil yang maksimal.
5.     Memperkaya referensi pendukung agar dapat memahami materi yang telah diberikan

TATA KRAMA-RIA ELITA




TATAKRAMA
A.  Definisi Tatakrama
Tata krama adalah kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antarmanusia setempat. Secara etimologi Tata krama terdiri atas kata ‘tata’ dan ‘krama’. Tata berarti aturan, norma, peraturan, adat. Dan krama berarti sopan santun, kelakuan, perbuatan. Dengan demikian tata krama berarti adat sopan santun, kebiasaan sopan santun, atau sopan santun.
Tata krama yang ditaati dapat menentukan nasib baik seseorang, tetapi tata krama yang tidak ditaati dapat membawa mala petaka yang menyedihkan jika tidak dijadikan kebiasaan dan sikap hidup. Komunikasi dengan orang lain dalam pergaulan merupakan arena yang paling banyak menuntut diterapkannya tata karama. Oleh karena itu bisa dikatakan tata krama dan komunikasi dalam pergaulan ibarat dua sisi mata uang, dua hal yang tak dapat dipisahkan
Komunikasi dalam pergaulan adalah kegiatan sehari-hari Anda, seperti kegiatan makan, minum yang tak lepas dari kehidupan Anda. Bergaul telah menjadi kebiasaan hidup Anda sampai lupa bahwa bergaul tidak selamanya mudah. Kemampuan bergaul itu gampang-gampang susah untuk orang yang mudah bergaul dan susah-susah gampang untuk orang yang sulit bergaul.
Ada beberapa kunci pokok yang mungkin perlu dicamkan untuk mengatasi masalah komunikasi yang menjadi hambatan dalam bergaul.
1. Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Ini kunci yang pertama dan utama.
2. Setiap orang mempunyai perbedaan individual, bahkan tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki kesamaan dalam seluruh segi. Jadi terimalah sifat tertentu teman Anda yang mungkin agak aneh dirasakan.
3. Kenal dulu baru sayang. Karena itu Anda perlu m,embuka diri agar semakin dikenal. Hal ini banyak membantu cara orang lain bersikap terhadap diri Anda.
4. Masalah komunikasi dengan sesama akan teratasi jika percaya pada orang lain. Percaya pada orang lain, cinta pada orang lain dan kesediaan berkorban melandasi komunikasi dengan sesama.
Empat kuci tersebut memang mudah dihafal, tapi sulit dilakukan. Oleh karena itu sebagai insan yang tidak sempurna, yang penuh cela, yang terlupa akan himbauan sopan santun, perenungan ( refleksai ) diri mungkin dapat membantu meloncat dari batu satu ke batu lain agar kelak Anda dapat sampai ke seberang sungai.
B.  Identifikasi Pelaksanaan Tatakrama
Aturan sopan santun ibarat garam dalam masakan. Tanpa garam masakan akan terasa hambar. Peran garam amat penting, meskipun hanya sedikit, tapi menjadi faktor penentu enak tidaknya masakan. Kenyataan ini menyebabkan ketentuan sopan santun seolah menyusup ke mana saja dan kapan saja. Tata krama terhadap guru, tata krama terhadap teman dan tata krama terhadap orang tua perlu diperhatikan, dipelajari dan dibiasakan. Berikut adalah beberapa tatakrama pergaulan di sekitar lingkungan yaitu :
1.    Tatakrama di lingkungan sekolah
Sekolah merupakan tempat belajar mengajar yang sarat dengan tata karama. Sekolah yang baik dan berkualitas adalah sekolah yang tata krama dan peraturan sekolahnya dipatuhi oleh kepala sekolah, guru, karyawan dan semua siswanya dengan baik. Tata krama di sekolah merupakan pusat nilai-nilai kultural, nilai-nilai moral, etika peradaban. Dengan tata krama sekolah mampu mencetak manusia-mnanusia yang cerdas, trampil yang didasari dengan iman dan taqwa. Tata krama di sekolah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu tata krama di ruang kelas dan tata krama di lingkungan sekolah.

2.    Tatakrama di rumah
Rumah merupakan tempat tinggal kita bersama keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, kakak, adik dan keluarga yang lain. Rumah tanga akan merasa tenteram dan bahagia apabila semua penghuni rumah itu menjunjung tinggi nilai-nilai moral tata krama. Ayah, Ibu senantiasa memberi contoh bertata krama yang baik terhadap putra-putrinya, begitu pula dengan anak-anak senantiasa taat dan patuh membiasakan tata krama yang dicontohkan orang tua sehingga rumah tangga tampak tenang damai dan sejahtera. Sebaliknya tidak dipatuhinya tata krama dalam rumah tangga akan mengakibatkan keluarga menjadi amburadul.
Terhadap ayah dan ibu kita harus bersikap sopan santun ( tawadhu’) karena beliaulah yang melahirkan kita, membesarkan dan membiayai kita bersekolah. Berbicaralah dengan sopan, lemah-lembut, patuhilah perintah dan nasihatnya. Jangan berbicara keras dan kasar, membantah bahkan menghardik. Bila berbeda pendapat berilah alasan yang baik. Pada waktu berangkat sekolah mintalah ijin kepada orang tua dengan bersalaman dan mengucap salam. Bila nanti pulang terlambat sebaiknya beritahkan sebelumnya. Bantulah orang tua pada waktu mereka bekerja.

3.    Tatakrama di lingkungan masyarakat
Tata krama di masyarakat tumbuh dan berkembang di atas nilai adat istiadat, budaya dan moral agama. Tata krama di masyarakat perlu mendapat perhatian terus menerus oleh semua pihak, baik aparat keamanan, tokoh masyarakat, orang tua maupun generasi muda. Karena alkhir-akhir ini banyak terjadi tindak kriminal dan pelanggaran tata krama di masyarakat.


C.  Contoh perilaku tatakrama
1.     Sikap atau perilaku tatakrama di sekolah
a.    Tata krama di ruang kelas dapat dipaparkan sebagai berikut :
1)    Siswa mengikuti pelajaran dengan tekun dan sungguh-sungguh
2)   Siswa berpakaian, berjalan, dan bertindak dengan sikap sopan.
3)   Siswa menghargai dan menghormati guru
4)   Tidak membuat gaduh / onar dalam kelas.
5)   Siswa menghargai pendapat orang lain dalam perbedaan pendapat.
b. Tata krama di lingkungan sekolah antara lain sebagai berikut :
1)    Berpakaian seragam rapi sesuai dengan tata tertib yang berlaku.
2)   Tidak melakukan corat-coret di meja, dinding tembok sekolah.
3)   Tidak merokok, minum-minuman keras ( Narkoba ) baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
4)   Berpartisipasi aktif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, indah, aman, tertib dan lancar.
5)   Mengikuti upacara / apel bendera dengan hidmat.
6)   Bergaul dengan sesama siswa, guru dan karyawan dengan sikap tata krama.
2.    Sikap atau perilaku tatakrama di keluarga
a.    Mengetok pintu dan mengucap salam ketika memasuki rumah
b.    Menghormati atau tunduk terhadap orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua
c.    Respek terhadap saudara-saudara
d.    Membaca doa sebelum makan dan minum, mempersilakan yang lebih tua terlebih dahulu dan tidak membunyikan alat makan
3.    Sikap atau perilaku tatakrama di masyarakat
a.    Tata krama Terhadap Tetangga.
Untuk menjaga keserasiah hubungan kita dengan tetangga, kita harus menjaga tatakrama sebagai berikut :
1)    Bersikap tenggang rasa ( tepo sliro ) menjaga perasaan orang lain.
2)   Tidak mengganggu hak dan kewajiban orang lain.
3)   Mengucapkan selamat ( apresiasif ) bila tetangga mendapat kesuksesan
4)   Merasakan sedih bila tetanga terkena musibah.
5)   Saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.
b.    Tata krama Bertamu
1)    Carilah waktu yang tepat bila akan bertamu, jangan pada jam-jam sibuk dan waktu istirahat.
2)   Ketuk pintu dan ucapkan salam (sesuai adat kebiasaan), dan jangan bertamu lewat pintu belakang.
3)   Duduklah bila tuan rumah telah mempersilahkan duduk.
4)   Bila tuan rumah selalu melihat jam, segeralah kalian minta ijin untuk kembali pulang.
c.    Tata krama di Jalan
Di jalan kita juga harus bertata krama agar pengguna jalan dapat selamat di tempat tujuan. Terjadinya kecelakaan sering disebabkan karena pengguna jalan tidak mengindahkan tata krama berlalu lintas.Ketika hendak mengendarai kendaraan bermotor perhatikan kelengkapan berkendaraan seperti SIM, STNK, Helem dan kelengjkapan lainnya harus dipenuhi. Perhatikan rambu-rambu lalu lintas dan jangan ngebut, sebab ngebut dapat membahayakan diri sendiri dan penguna jalan lain. Taatilah semua rambu-rambu lalulintas dan peraturan lalulintas lainnya.
Ketika menumpang kendaraan umum, bila ada orang tua / searang ibu hamil / ibu yang menggendong anaknya tidak kebagian tempat duduk, sebaiknya kita berdiri dan mempersilahkan duduk orang tersebut. Ketika kita berjalan bersama teman wanita sebaiknya teman wanita di depan atau wanita di samping kiri pria. Bila berjalan di tangga, saat naik wanita di belakang pria dan saat turun wanita di depan pria.
d.    Tata krama Menggunakan Fasilitas Umum.
Fasilitas umum disediakan untuk kelancaran dan kenyamanan berbagai urusan masyarakat. Banyak biaya yang dikeluarkan untuk membangun fasilitas tersebut. Namun kenyataan banyak fasilitas umum seperti, Telepon umum, halte, WC, tempat sampah dan fasilitas lain yang tidak dapat terawat dengan baik. Berbagai gejala memprihatinkan sering kita temukan, banyak orang menyalahgunakan fasilitas umum, seperti :
1)    Menggunakan telepon umum dengan seenaknya, bahkan cenderung merusak, sehingga fasilitas yang seharusnya memperlancar komunikasi masyarakat, tidak dapat berfungsi dengan baik.
2)   Halte yang seharusnya disediakan untuk kenyamanan penumpang yang sedang menunggu kendaraan, sering kita temukan corat-coret tangan jahil yang membuat lingkungan tidak nyaman.
3)   Tempat sampah yang seharusnya untuk menampung sampah agar tidak berserakan, jadi sasaran tendangan / lemparan batu sehiungga menjadsi tak berguna. Tak jarang di dlam kelas atau di halaman sekolah sobekan-sobekan kertas, bekas botol minuman berserakan sementara tempat sampah tersedia.