TATAKRAMA
A. Definisi
Tatakrama
Tata krama adalah kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan
pergaulan antarmanusia setempat. Secara etimologi Tata krama terdiri
atas kata ‘tata’ dan ‘krama’. Tata berarti aturan, norma, peraturan, adat. Dan
krama berarti sopan santun, kelakuan, perbuatan. Dengan demikian tata krama
berarti adat sopan santun, kebiasaan sopan santun, atau sopan santun.
Tata krama yang
ditaati dapat menentukan nasib baik seseorang, tetapi tata krama yang tidak
ditaati dapat membawa mala petaka yang menyedihkan jika tidak dijadikan
kebiasaan dan sikap hidup. Komunikasi
dengan orang lain dalam pergaulan merupakan arena yang paling banyak menuntut
diterapkannya tata karama. Oleh karena itu bisa dikatakan tata krama dan
komunikasi dalam pergaulan ibarat dua sisi mata uang, dua hal yang tak dapat
dipisahkan
Komunikasi dalam pergaulan adalah
kegiatan sehari-hari Anda, seperti kegiatan makan, minum yang tak lepas dari
kehidupan Anda. Bergaul telah menjadi kebiasaan hidup Anda sampai lupa bahwa
bergaul tidak selamanya mudah. Kemampuan bergaul itu gampang-gampang susah
untuk orang yang mudah bergaul dan susah-susah gampang untuk orang yang sulit
bergaul.
Ada beberapa kunci pokok yang
mungkin perlu dicamkan untuk mengatasi masalah komunikasi yang menjadi hambatan
dalam bergaul.
1. Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin
diperlakukan. Ini kunci yang pertama dan utama.
2. Setiap orang mempunyai perbedaan individual, bahkan tidak
ada satupun di dunia ini yang memiliki kesamaan dalam seluruh segi. Jadi
terimalah sifat tertentu teman Anda yang mungkin agak aneh dirasakan.
3. Kenal dulu baru sayang. Karena itu Anda perlu m,embuka
diri agar semakin dikenal. Hal
ini banyak membantu cara orang lain bersikap terhadap diri Anda.
4. Masalah komunikasi
dengan sesama akan teratasi jika percaya pada orang lain. Percaya pada orang
lain, cinta pada orang lain dan kesediaan berkorban melandasi komunikasi dengan
sesama.
Empat kuci tersebut memang mudah
dihafal, tapi sulit dilakukan. Oleh karena itu sebagai insan yang tidak
sempurna, yang penuh cela, yang terlupa akan himbauan sopan santun, perenungan
( refleksai ) diri mungkin dapat membantu meloncat dari batu satu ke batu lain
agar kelak Anda dapat sampai ke seberang sungai.
B. Identifikasi
Pelaksanaan Tatakrama
Aturan sopan santun ibarat
garam dalam masakan. Tanpa garam masakan akan terasa hambar. Peran garam amat
penting, meskipun hanya sedikit, tapi menjadi faktor penentu enak tidaknya
masakan. Kenyataan ini menyebabkan
ketentuan sopan santun seolah menyusup ke mana saja dan kapan saja. Tata
krama terhadap guru, tata krama terhadap teman dan tata krama terhadap orang
tua perlu diperhatikan, dipelajari dan dibiasakan. Berikut adalah beberapa
tatakrama pergaulan di sekitar lingkungan yaitu :
1. Tatakrama di lingkungan sekolah
Sekolah merupakan tempat belajar
mengajar yang sarat dengan tata karama. Sekolah yang baik dan berkualitas
adalah sekolah yang tata krama dan peraturan sekolahnya dipatuhi oleh kepala
sekolah, guru, karyawan dan semua siswanya dengan baik. Tata krama di
sekolah merupakan pusat nilai-nilai kultural, nilai-nilai moral, etika
peradaban. Dengan tata krama sekolah mampu mencetak manusia-mnanusia yang
cerdas, trampil yang didasari dengan iman dan taqwa. Tata krama di sekolah
dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu tata krama di ruang kelas dan
tata krama di lingkungan sekolah.
2. Tatakrama di rumah
Rumah
merupakan tempat tinggal kita bersama keluarga yang terdiri atas ayah, ibu,
kakak, adik dan keluarga yang lain. Rumah tanga akan merasa tenteram
dan bahagia apabila semua penghuni rumah itu menjunjung tinggi nilai-nilai
moral tata krama. Ayah, Ibu senantiasa memberi contoh bertata krama yang baik
terhadap putra-putrinya, begitu pula dengan anak-anak senantiasa taat dan patuh
membiasakan tata krama yang dicontohkan orang tua sehingga rumah tangga tampak
tenang damai dan sejahtera. Sebaliknya tidak dipatuhinya tata krama dalam rumah
tangga akan mengakibatkan keluarga menjadi amburadul.
Terhadap ayah dan ibu kita harus bersikap sopan santun (
tawadhu’) karena beliaulah yang melahirkan kita, membesarkan dan membiayai kita
bersekolah. Berbicaralah dengan sopan, lemah-lembut, patuhilah perintah dan
nasihatnya. Jangan berbicara keras dan kasar, membantah bahkan menghardik. Bila
berbeda pendapat berilah alasan yang baik. Pada waktu berangkat sekolah
mintalah ijin kepada orang tua dengan bersalaman dan mengucap salam. Bila nanti
pulang terlambat sebaiknya beritahkan sebelumnya. Bantulah orang tua pada waktu
mereka bekerja.
3. Tatakrama di lingkungan masyarakat
Tata krama di
masyarakat tumbuh dan berkembang di atas nilai adat istiadat, budaya dan moral
agama. Tata krama di masyarakat perlu mendapat perhatian terus menerus oleh
semua pihak, baik aparat keamanan, tokoh masyarakat, orang tua maupun generasi
muda. Karena
alkhir-akhir ini banyak terjadi tindak kriminal dan pelanggaran tata krama di
masyarakat.
C. Contoh
perilaku tatakrama
1.
Sikap atau perilaku tatakrama di
sekolah
a.
Tata
krama di ruang kelas dapat dipaparkan sebagai berikut :
1)
Siswa
mengikuti pelajaran dengan tekun dan sungguh-sungguh
2)
Siswa
berpakaian, berjalan, dan bertindak dengan sikap sopan.
3)
Siswa
menghargai dan menghormati guru
4)
Tidak
membuat gaduh / onar dalam kelas.
5)
Siswa
menghargai pendapat orang lain dalam perbedaan pendapat.
b. Tata krama
di lingkungan sekolah antara lain sebagai berikut :
1)
Berpakaian seragam rapi sesuai dengan tata tertib yang
berlaku.
2)
Tidak
melakukan corat-coret di meja, dinding tembok sekolah.
3)
Tidak
merokok, minum-minuman keras ( Narkoba ) baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
4)
Berpartisipasi
aktif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, indah, aman, tertib dan
lancar.
5)
Mengikuti upacara / apel bendera dengan hidmat.
6)
Bergaul dengan sesama siswa, guru dan karyawan dengan
sikap tata krama.
2.
Sikap atau perilaku tatakrama di
keluarga
a.
Mengetok pintu dan mengucap salam
ketika memasuki rumah
b.
Menghormati atau tunduk terhadap
orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua
c.
Respek terhadap saudara-saudara
d.
Membaca doa sebelum makan dan
minum, mempersilakan yang lebih tua terlebih dahulu dan tidak membunyikan alat
makan
3.
Sikap atau perilaku tatakrama di
masyarakat
a.
Tata
krama Terhadap Tetangga.
Untuk menjaga keserasiah hubungan kita dengan
tetangga, kita harus menjaga tatakrama sebagai berikut :
1)
Bersikap tenggang rasa ( tepo sliro ) menjaga perasaan
orang lain.
2)
Tidak
mengganggu hak dan kewajiban orang lain.
3)
Mengucapkan selamat ( apresiasif ) bila tetangga mendapat
kesuksesan
4)
Merasakan sedih bila tetanga terkena musibah.
5)
Saling
tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.
b. Tata krama Bertamu
1)
Carilah
waktu yang tepat bila akan bertamu, jangan pada jam-jam sibuk dan waktu
istirahat.
2)
Ketuk
pintu dan ucapkan salam (sesuai adat kebiasaan), dan jangan bertamu lewat pintu
belakang.
3)
Duduklah
bila tuan rumah telah mempersilahkan duduk.
4)
Bila
tuan rumah selalu melihat jam, segeralah kalian minta ijin untuk kembali
pulang.
c. Tata krama di Jalan
Di jalan kita juga harus
bertata krama agar pengguna jalan dapat selamat di tempat tujuan. Terjadinya
kecelakaan sering disebabkan karena pengguna jalan tidak mengindahkan tata
krama berlalu lintas.Ketika hendak mengendarai kendaraan bermotor perhatikan
kelengkapan berkendaraan seperti SIM, STNK, Helem dan kelengjkapan lainnya
harus dipenuhi. Perhatikan rambu-rambu lalu lintas dan jangan ngebut, sebab ngebut
dapat membahayakan diri sendiri dan penguna jalan lain. Taatilah semua
rambu-rambu lalulintas dan peraturan lalulintas lainnya.
Ketika menumpang kendaraan
umum, bila ada orang tua / searang ibu hamil / ibu yang menggendong anaknya
tidak kebagian tempat duduk, sebaiknya kita berdiri dan mempersilahkan duduk
orang tersebut. Ketika kita berjalan bersama teman wanita sebaiknya teman
wanita di depan atau wanita di samping kiri pria. Bila berjalan di tangga, saat
naik wanita di belakang pria dan saat turun wanita di depan pria.
d.
Tata krama Menggunakan Fasilitas Umum.
Fasilitas umum disediakan
untuk kelancaran dan kenyamanan berbagai urusan masyarakat. Banyak biaya yang
dikeluarkan untuk membangun fasilitas tersebut. Namun kenyataan banyak
fasilitas umum seperti, Telepon umum, halte, WC, tempat sampah dan fasilitas
lain yang tidak dapat terawat dengan baik. Berbagai gejala memprihatinkan
sering kita temukan, banyak orang menyalahgunakan fasilitas umum, seperti :
1)
Menggunakan telepon umum dengan seenaknya, bahkan cenderung
merusak, sehingga fasilitas yang seharusnya memperlancar komunikasi masyarakat,
tidak dapat berfungsi dengan baik.
2)
Halte yang seharusnya disediakan untuk kenyamanan
penumpang yang sedang menunggu kendaraan, sering kita temukan corat-coret
tangan jahil yang membuat lingkungan tidak nyaman.
3)
Tempat sampah yang seharusnya untuk menampung sampah agar
tidak berserakan, jadi sasaran tendangan / lemparan batu sehiungga menjadsi tak
berguna. Tak jarang di dlam kelas atau di halaman sekolah sobekan-sobekan kertas,
bekas botol minuman berserakan sementara tempat sampah tersedia.